Awal bulan Desember begini musim tandur (menanam padi) di kampung dimulai. Sekarang sih enak tanahnya digemburkan pakai traktor, dulu dulu semasa saya SD/SMP mesin traktor masih menjadi barang langka. Semua pekerjaan di sawah dikerjakan manual memakai cangkul dan dibantu sapi hewan kerbau. Itu memakan waktu seharian full dari start pagi sampai sore , karena kadang di selingi drama kerbau yang ngambek segala.😀
Hal yang selalu saya suka adalah waktu ngirim orang megawe dan tandur , ikut membantu almarhum Simbah membawakan nasi dan lauk pauknya beserta seceret teh juga ubo rampenya, roti , gorengan dkk.
Setelah padi berumur 2 mingguan keatas biasanya juga ikut ngebantuin buat bersihin tanaman gulma yang tumbuh di sela sela pohon padi. Matun kamu menyebutnya.
Dan sewaktu matun itu biasanya kan nemuin tuh keong keong sawah kecil , entahlah apa nama spesifiknya, tapi belakangan saya baru tahu kalau di daerah Sunda itu disebut Tutut. Biasanya keong keong itu dibawa pulang dan dimasak , direbus dulu baru dicongkel dagingnya . Seterusnya ditumis pedes pakai kecap atau dikicik. Beuuuh rasanya enak banget juara , seperti rempela/ampela ayam dengan tekstur kenyal kenyalnya.😁
Terkadang saya sendiri kangen pengen makan lagi tuh masakan dari keong sawah , rindu sensasi kenyil kenyilnya. Terakhir beli itu sate keong di angkringan dekat kampus UAD, itu juga dah lama sekali. Entah sekarang masih ada nggak yang jualan sate keong disini.






Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.